T-shirt, Oblong, dan Kaos, dan Sejarahnya
06
June
2014

T-shirt , terbuat dari bahan yang ringan, kain murah, dan mudah dibersihkan.

T-shirt berawal dari  suatu waktu antara Perang Spanyol-Amerika tahun 1913 , ketika Angkatan Laut AS mulai memperkenalkannya sebagai pakaian . Kata ” T-shirt ” menjadi bagian dari bahasa Inggris Amerika pada tahun 1920 , dan muncul dalam Merriam – Webster Dictionary. Setelah Perang Dunia II , menjadi umum untuk melihat veteran mengenakan celana seragam mereka dengan T-shirt sebagai pakaian kasual. T-Shirt menjadi semakin populer pada 1950-an setelah Marlon Brando mengenakannya di film A Streetcar Named Desire. Kemudian, T-Shirt mencapai status sebagai sesuatu yang modis dan terkenal. Seringkali anak laki-laki memakai T-Shirt  saat melakukan kegiatan sehari-hari dan bermain di luar  hingga akhirnya menjadikannya sebagai pakaian kasual . T-shirt print pertama dibuat terbatas tahun 1942 oleh  Air Corps Gunnery , dan kemudian T -shirt muncul di sampul majalah Life. Pada tahun 1960, T-shirt print mendapatkan popularitas untuk ekspresi diri dan juga untuk iklan, lambang protes, dan souvenir .
Versi saat ini tersedia dalam berbagai desain dan gaya termasuk kru-neck dan V-neck shirt.

t-shirt_v-Neck

Sebuah T-shirt biasanya memanjang hingga ke pinggang. Mode dalam kebudayaan Hip hop memilki nama khusus untuk varian T-shirt, “Tall-T” yang dapat diperpanjang sampai ke lutut. Sebuah tren 1990 pada pakaian wanita menjadikannya semakin ketat atau dipotong. Kecenderungan lain yang kurang populer adalah mengenakan T-shirt lengan pendek dari warna yang kontras. T-shirt yang ketat untuk untuk wanita dan disesuaikan dengan bentuk tubuh serta dijahit disebut “baby doll” T-shirt.

Di Indonesia istilah T-shirt juga dikenal sebagai kaos olblong atau kaos atau oblong. Saat ini jutaan orang setiap harinya menggunakan oblong atau kaos untuk kegiatannya. Kaos juga digunakan untuk berbagai peristiwa atau kegiatan seperti kampanye, acara musik, dan kegiatan sosial. Pembuatan kaos di Indonesia juga telah menjamur, mulai dari penjualan bahan kaos, penjahit kaos, sablon dan print kaos, hingga toko atau usaha-usaha yang menjual kaos. Dalam berbagai kesempatan unjuk rasa, kaos juga sering digunakan sebagai media komunikasi. Biasanya, ketika unjuk rasa, kaos disablon atau dicetak dengan tulisan yang berhubungan dengan isu yang sedang berlangsung atau isu yang dipermasalahkan.

 

Comments are closed.